Minggu, 05 Juni 2011

Gmail Diretas, AS-China di Ambang Cyber War

Hubungan Amerika Serikat dan China kembali memanas pekan ini. Pemicu, terendusnya percobaan pencurian data akun Gmail milik pejabat senior Amerika Serikat serta ratusan tokoh penting lain, Kamis lalu.
Aksi percobaan itu dicurigai dilakukan oleh para peretas China dan diarahkan untuk menjebak para petinggi negara dan militer AS, birokrat Asia, serta aktivis dan wartawan China. Google jelas-jelas menuding motif para peretas adalah untuk memantau informasi penting yang berseliweran lewat Gmail.

Tentu saja, wanti-wanti dari Google itu langsung mendapat perhatian besar dari pemerintah AS. Bahkan Presiden Barack Obama memantau dan secara berkala mendapat update mengenai hal ini. "Tuduhan ini sangat serius," kata Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton, seperti dikutip dari situs Wall Street Journal.
Pasalnya, salah satu pejabat AS mengatakan, salah satu target peretas adalah orang yang bertugas di Gedung Putih. Pemerintahan Obama kembali mengatakan bahwa tidak ada informasi negara yang telah bocor dari upaya penyerangan itu.

Namun, anggota kongres dan banyak pakar keamanan komputer mengatakan bahwa di masa lalu, banyak para pejabat yang terkadang menggunakan email pribadi mereka (bukan email resmi) untuk urusan bisnis, walaupun peraturan tidak mengijinkan hal itu.
Bahkan, kepada CBS News, seorang pakar keamanan mengatakan bahwa pegawai pemerintahan AS yang bekerja dari rumah, seringkali menggunakan Gmail untuk urusan pekerjaan. Pegawai Gedung Putih, misalnya, sering berkomunikasi tentang kapan dan di mana Presiden Obama melakukan perjalanan dinas.

Informasi yang bisa dijumpai di sistem tak aman itu, tentu saja bisa berkembang dan menjalar kepada isu keamanan yang serius. "Setiap orang yang bekerja di pemerintahan, seharusnya tidak menggunakan akun email pribadi semacam Gmail untuk membahas informasi rahasia atau informasi aktivitas pemerintah," kata Jenderal (Purn) Harry Raduege.
Percobaan pencurian informasi akun Gmail itu sendiri dilakukan dengan metode phishing yang cukup cerdik. Peretas mengirim email palsu kepada para target, berisi subyek email tentang pernyataan gabungan terkini dari pemerintah AS dan China.
Bila diklik, bukannya langsung membuka isi email, itu justru mengarahkan target ke sebuah situs palsu yang menyerupai laman depan Gmail. Di situ, target diminta mengisi akun dan password Gmail mereka. Bila target tertipu, maka selanjutnya peretas akan dapat mengakses akun pribadi Gmail target.

Kecurigaan Google diarahkan kepada para peretas China, karena jika ditelusuri, peretas ternyata berada di daerah Jinan, ibu kota Provinsi Shandong, China bagian timur. Jinan, yang terletak sekitar 400 kilometer sebelah selatan Beijing, merupakan markas biro-biro pengintaian teknis milik People's Liberation Army, salah satu angkatan perang terbesar di dunia.
Tempat itu diidentifikasi sebagai wilayah yang terkait dengan serangan yang diarahkan terhadap sistem Google tahun lalu. Google sendiri mengatakan bahwa beberapa korban dari aksi tersebut sudah diketahui dan telah diamankan. sementara itu, biro investigasi AS FBI masih terus menyelidiki kasus ini.

Namun, pemerintah China menolak mentah-mentah tudingan Google. Kemarin, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Hong Lei, membantah. "China sendiri telah menjadi korban serangan peretas ini, dan pemerintah telah memberikan perhatian besar pada keamanan dunia maya," ujarnya.
Lebih lanjut, Hong Lei malah balik menuding. "Pernyataan yang menyebutkan bahwa pemerintah China mendukung serangan pembajakan, memiliki motif tersembunyi."
Pada China Youth Daily - salah satu koran yang dikendalikan oleh Partai Komunis China - pihak Akademi militer China bahkan menulis artikel yang mengklaim bahwa insiden serangan itu maupun penggunaan internet untuk mempromosikan pergantian rezim di negara-negara Arab, sebenarnya justru dilakukan oleh pemerintah AS.

"Belakangan ini, tornado Internet yang menyapu dunia ... berpengaruh secara masif dan mengguncang bumi. Di balik semua ini, terbujur bayangan Amerika," kata artikel, yang ditulis Ye Zheng dan Zhao Baoxian, dari Akademi Sains Militer.
Keduanya bahkan mengidentifikasi hal ini sebagai persiapan untuk menghadapi perang cyber. "Menghadapi pemanasan perang Internet ini, semua negara dan militer tidak bisa pasif, melainkan harus mempersiapkan diri untuk perang Internet," kata artikel itu, dikutip dari situs ABCNews.
Mereka menambahkan, bila perang nuklir adalah strategi pada era industri, maka perang Internet adalah produk dari jaman informasi. Konflik ini, akan sangat mengancam keamanan nasional, dan menjadi bukti eksistensi bagi sebuah negara.

Di dunia maya, China memang seringkali berkonflik dengan negara dan perusahaan-perusahaan barat. Sejumlah pemerintahan mengaku telah menjadi target serangan cyber dari China, walaupun kemudian secara rutin Beijing membantah tuduhan itu.
Negara panda itu, juga terkenal sebagai pemblokir konten dan situs-situs barat, sehingga mendapat julukan "Great Firewall of China". Polisi di sana juga mengerahkan pengawasan terhadap internet untuk memberangus konten-konten yang dianggap ilegal dan subversif.
Pekan ini pemerintah AS menetapkan, serangan cyber itu diklasifikasikan sebagai 'perang' atau bukan. Bila ketegangan ini mengalami eskalasi, tentu saja tak mustahil bila insiden ini akan berlanjut pada perang cyber.

sumber : vivanews.com

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More